LOGO HIMANT

Himpunan Alumni PP.NAHDLATUT THALIBIN

Logo Himpunan Alumni PP.NAHDLATUT THALIBIN yang di singkat dengan HIMANT telah di angkat dalam sidang Pengurus Alumni PP.NAHDLATUT THALIBIN pada saat sidang Pengurus Alumni Tanggal 17 Januari 2019 M yang di hadiri oleh segenap Pengurus Alumni dan Koordinator Kecamatan (KORCAM) dan Ketua Alumni KH.ABDULLOH SATTAR Serta semua Masyayeh PP.NAHDLATUT THALIBIN dan telah di restui oleh KH.MUHAMMAD GHOZALI BAHAR

Sehingga menghasilkan sebuah keputusan bahwa logo Himpunan Alumni adalah seperti di atas.

DO’A SETELAH NGAJI TAFSIR JALALAIN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
رَبَّنَا انْفَعْنَـا بِمَا عَلَّمْتَنَـا * رَبِّ عَلِّمْنَـا الَّذِى يَنْفَعُنَـا

Ya Allah, Ya Tuhan kami, berilah manfaat kepada kami, dengan apa yang telah kami pelajari.
Ya Allah, berilah ilmu kepada kami, yaitu ilmu yang bermanfaat bagi kami

رَبِّ فَقِّهْنَـا وَفَقِّـهْ اَهْلَنَـا * وَقَرَباَتٍ لَنَـا فِى دِيْنِنـَـا
Ya Allah, berilah kecerdasan (kepintaran) kepada kami dalam urusan Agama kami
dan keluarga kami serta kerabat-kerabat

مَعَ أَهْلِ الْقُطْرِ أُنْثَى
dan beserta penghuni daerah (Negara), baik laki-laki maupun perempuan

رَبِّ فَقِّـهْنـَا وَفَقِّهُمْ بِمَـا * تَرْضَى قَوْلاً وَفِعْـلاً كَرَمـاَ
Ya Allah Tunjukanlah kepada kami, dan kepada mereka (keluarga dan kerabat kami)
kepada sesuatu yang Engkau ridhoi dari ucapan dan perbuatan mulia

وَارْزُقِ الْكُلَّّ حَـلاَلاً دَئِمَـا * وَأَخِـلاَّّءَ أَتْقِيَـاءَ عُلَمَـاءْ
Dan berilah Rizki (kepada kami semua), rizki yang halal dan langgeng,
dan hiasilah kami dengan takwanya para Ulama

نُخْظَى بِالْخَيْرِ وَنُكْفَى كُلَّ شَرٍّ
Semoga kami diberi keuntungan (kemudahan) dengan kebaikan, dan berilah kami (karunia) pencegahan dari sesuatu yang buruk

رَبَّنّا أَصْلِحْ لَنَا كُلَّ الشُّـؤُنْ * وَأَقِرَّ بِالرِّضَى مِنْكَ الْعُيُـوْنْ
Ya Allah, berilah kebaikan kepada kami atas segala macam urusan,
dan berilah kesejukkan mata hati kami dengan keridhoan dari-Mu

وَاقْضِ عَنَّا كُلَّ الدُّيُــوْنْ * قَبْلَ أَنْ تَأْتِيَنَا رُسُلَ الْمَنُوْنْ
Tunaikanlah dari kami (kemudahan membayar) Ya Allah, dari segala hutang,
sebelum datang kepada kami utusan pencabut nyawa ( Maiakat Maut )

وَاغْفِرْ وَاسْتُرْ أَنْتَ أَكْرَمَ مَنْ سَتَرْ
Ampunilah serta tutupilah (segala aib dan dosa), Sesungguhnya Engkau semulia-mulia Dzat Yang Maha Menutupi

وَصَلاَةُ اللَّهِ تَغْشَى الْمُصْطَفَى * مَنْ اِلَى الْحَقِّ دَعَانَا وَالْـوَفَا
Dan Shalawat Allah semoga tercurahkan kepadaNabi pilihan (Muhammad SAW)
yang telah menyeru kami kepada kebenaran dan kesempurnaan

بِكِتَابٍ فِيْهِ لِلنَّاسِ شِفَـــاءْ * وَعَلَى آلِ الْكِرَامِ الشُّرَفَــاءْ
Dengan Al-Qur’an yang didalamnya terdapat penyembuhan bagi manusia,
dan kepada keluarganya yang mulia dan bermartabat tinggi

وَعَلَى الصَّحْبِ الْمَصَابِيْحِ الْغُرُرْ
Dan kepada para sahabat, yang menjadi lampu penerang yang bersinar

اللَّهُمَّ اهْدِنَا بِهُدَاكَ وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يُسَارِعُ فِى رِضَاكَ
Ya Allah, berilah kami petunjuk dengan petunjuk-Mu, dan jadikan kami dari golongan orang yang bersungguh-sungguh dalam mencari keridhoan-Mu

وَلاَ تُوَلِّنَا وَلِيًّا سِوَاكَ وَلاَ تَجْعَلْنَا مِمَّنْ خَالَفَ أَمْرَكَ وَعَصَاكَ
Dan janganlah kuasakan kepada kami, penguasa selain Engkau, Dan janganlah jadikan kami orang yang berpaling dari perintah-Mu dan mendurhakai Engkau

وَحَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ وَلاَ حَوْل وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ
Dan cukuplah Allah penolong bagi kami, dan sebaik-baik dzat yang diserahi urusan, tidak ada daya dan kekuatan , kecuali berkat pertolongan Alloh Yang Maha tinggi Dan Maha Agung

THORIQOH AT-TIJANIYAH JAWA TIMUR BERAWAL DARI PP.NAHDLATUT THALIBIN Blado Wetan Banyuanyar Probolinggo

Ajaran thariqat tijaniyah di Jawa Timur, pada masa awal terpusat di Podok Pesantren “Nahdat al-Thalibin”, Blado Wetan Banyu Anyar Probolinggo, yang dirintis dan dikembangkan oleh KH. Khozin Syamsul Mu’in. Pada tahun 1927 M., ia pergi ke Makkah untuk mendalami ilmu agama, dan bermukim disana selama sepuluh tahun, karena ia pulang pada tahun 1937 M. ketika di Makkah ia berguru dalam bidang thariqat kepada Syekh Muhammad bin Abd hamid al-Futi; sampai diangkat sebagai muqaddam. Sepulangnya ke tanah air ia tidak langsung mengembangkan ajaran Thariqat Tijaniyah, akan tetapi terlebih dahulu ia mendirikan pesantren “Nahdat al-Thalibin” di Blado Wetan Banyu Anyar Probolinggo. Hal ini dimaksudkan untuk melakukan pengajaran ilmu agama Islam kepada masyarakat di sekitar Blado Wetan Banyu Anyar. Penyebaran Thariqat Tijaniyah dimulai pada tahun 1952 setelah terlebih dahulu ia mendapat teguran —melalui mimpi— dari Syekh Ahmad al-Tijani
Pada awal pengembangan jama’ah Thariqat Tijaniyah, KH. Khozin menerapkan aturan yang sangat ketat, dalam arti ia sangat selektif dalam memberikan izin mengamalkan Thariqat Tijaniyah. Setiap calon murid, terlebih dahulu harus menguasai ilmu dasar-dasar aqidah dan syari’at. Sikap demikian, tampaknya muncul dari kekhawatirannya tentang persyaratan murid tijaniyah, dimana ia harus megamalkan Thariqat sampai akhir hayatnya dan tidak boleh menggabungkan dengan amalan thariqat lain, disamping persyaratan-persyaratan lain yang mengikat murid tijaniyah. Pada tahun 1954 M., ia mengangkat KH. Qusayiri —pengasuh pondok pesantren Lubbul Labib— sebagai muqaddam di didesa Kedungsari Kec. Maron Blado Wetan. Kemudian pada tahun 1967 M. ia mengangkat KH. Ahmad Taufik Hidayatullah Genggong Pajarakan Probolinggo sebagai muqaddam, melalui dua tokoh ini, Thariqat Tijaniyah di Probolinggo secara bertahap semakin dikenal masyarakat. Metode pengembangan jama’ah yang dilakukan KH. Khozin, sangat ideal apabila dikaitkan dengan tanggung jawab tarbiyah thariqatnya. Namun apabila dihubungkan dengan pengembangan jama’ah, tentu saja metode ini kurang efektif. Ia mengembangkan ajaran thairqat tijaniyah, sampai wafat pada tahun 1978, dalam usia 87 tahun, karena ia lahir pada tahun 1891 M. dan dimakamkan di komplek pesantren Nahdat al-Thalibin Bladuwetan Probolinggo.
Setelah KH. Khozin wafat, pengembangan ajaran Thariqat Tijaniyah di amanatkan kepada KH. Mukhlas Ahmad Ghazi —saudara ipar KH. Khozin—;hal ini, lebih dimungkinkan karena ia dianggap sudah mempunyai bekal tentang ilmu thariqa,. sedangkan putranya pada masa itu masih ingin menelaah secara lebih mendalam tentang ilmu thariqat.
Apabila Kiyai Khozin melakukan metode pengembangan kejamaahan secara ketat, maka pada periode KH. Muchlas Ahmad Ghozi, dilakukan secara “longgar” dalam arti persyaratan untuk menjadi murid tijaniyah tidak seketat pendahulunya. Dengan kata lain persyaratan masuk thariqat lebih dipermudah, ia bersemboyan “lebih baik masuk dahulu lalu diperbaiki dari dalam, daripada tidak masuk sama sekali” Perubahan metode dan kebijakan ini, sangat berpengaruh besar pada percepatan dan perkembangan jama’ah Thariqat Tinjaniyah. Pada masa kepemimpinannya, Thariqat Tijaniyah di Probolinggo menyebar ke Besuki, Bondowoso, Situ Bondo, Bangkalan Madura dan beberapa Kota di Jawa Timur. Dan ia wafat pada hari Juma’t 20 Rajab 1411 H., bertepatan dengan tahun 1991 M., dan dimakamkan di Maqbaroh keluarga Ponpes Nahdat al-Thalibin, Bladuwetan Probolinggo. Selanjutnya kepemimpinan Thariqat Tijaniyah di pesantren ini dilanjutkan oleh KH. Abu Yazid al-Bustomi yang ditunjuk langsung oleh KH. Umar Baidhowi saat pemakaman KH. Mukhlas Ahmad Ghozi dan langsung memperoleh izin membaca kitab “jawahir al-ma’ani” di Zawiyah induk Thariqat Tijaniyah di Komplek Pesantren Nahdat al-Thalibin Probolinggo.
Perkembangan selanjutnya Thariqat Tijaniyah di Probolinggo di kembangkan melalui sanad Syekh Muhammad bi Yusuf Surabaya —Ia megambil sanad thariqat dari KH. Khowi— ia adalah seorang ulama yang mempunyai pengaruh besar di Surabaya bahkan sampai ke Madura. Dalam mengembangkan ajaran thariqatnya ia mengangkat beberapa muqadda, antara lain : KH. Umar Baidhowi, sepanjang Surabaya, KH. Usman Bondowoso, KH. Musthofa, Sidoarjo, KH. Abdulloh Abu Hasan, Probolinggo, KH. Abdul Wahid, Kraksan Proboloinggo, KH. Dhofirudin, Kraksan Probolinggo, KH. Hasyim Abdul Ghafur dan KH. Tamam Surabaya”. Ia wafat pada tahun 1984 M., dan dimakamkan di komplek pemakaman Ampel Surabaya. Sebelum wafat ia telah mengangkat putranya yaitu KH. Ubaidillah bin Muhammad bin Yusuf sebagai muqaddam.
Tampilnya para muqaddam yang diangkat oleh Syekh Muhammad bin Yusuf membangun kegairahan dalam melakukan dakwah Thariqat Tijaniyah terutama yang di prakarsai oleh KH. Mas Umar Baidhowi, ia adalah figur ulama yang sholeh dan wara’. Ia melakukan pengembangan thariqat tijaniyah sejak masa Syekh Muhammad bin Yusuf. Melalui KH. Baidhowi, Thariqat Tijaniyah menembus daerah Batu, Blitar, Gresik, Mojokerto dan daerah lainnya di Jawa Timur. Melalui kepemimpinannya thariqat tijniyah di Jawa Timur semakin pesat. Selain itu ia melakukan terobosan baru dalam pengembangan dakwah Thariqat Tijaniyah, antara lain : (1) pada tahun 1979 ia menyusun buku manaqib Syekh Ahmad al-Tijani yang diberi nama Faidh al-Rabbani. Dengan terbitnya kitab ini, gairah jamaah Thariqat Tijaniyah dalam mereflesikan kecintaan murid Thariqat Tijaniyah terhadap Syekh Ahmad al-Tijani sangat tampak. Kitab ini tanpa diduga menjadi Silabus dalam setiap kegiatan Thariqat Tijaniyah, termasuk acara-acara syukuran-syukuran yang dilakukan oleh jamaah thariqat tijaniyah. Hal lain melalui kitab ini, secara langsung memberikan informasi tentang Syekh Ahmad al-Tijani dan thariqatnya tersosialisasi secara lebih luas. Selain itu berkah terbitnya kitab ini terlembagakan “manaqiban” yang dilaksanakan setiap tanggal 17 bulan Qomariyah, tentu saja aktifitas ini disamping menarik minat jamaah Thariqat Tijaniyah, juga menjadi fasilitator “muhibbin” untuk turut serta.(2) ia merinttis dan mencetuskan gagasan besar dalam sejarah perkembangan Thariqat Tijaniyah di Indonesia yakni membangun tradisi Idul Khotmi Syekh Ahmad al-Tijani RA. (3) pada tahun 1987 ia bersama KH. Ubaidilah bin Muhammad bin Yusuf melakukan shilatussanad Thariqat Tijaniyah dengan pusat Thariqat Tijaniyah di Maroko sekaligus melakukan ziarah ke maqam Syekh Ahmad al-Tijani di Fez Maroko. (4) ia melakukan safari pengajian dalam rangka mengembangkan kajian-kajian kitab kuning khususnya tentang Thariqat Tijaniyah, melalui kajian kitab Jawahir al-ma’ani dan munyat al-Murid. Diantaranya di jatibarang, Brebes Jawa Tengah —di kediaman Syekh Muhammad bin Ali Basalamah—, Malang —di kediaman almarhum KH. Ahmad Dimyati—, Zawiyah Thariqat Tijaniyah Blado Wetan Probolingo —kediaman KH. Mukhlas Ahmad Ghazi—, lumajang —di kediaman Habib Idrus bin Ali Baharun— dan Betoyo Gresik Jawa Timur. Kecintaannya terhadap ilmu agama khususnya ilmu thariqat, ia selalu mendorong ikhwan thariqat tijaniyah agar “selalu ngaji”.
Ia menghabiskan seluruh waktunya guna mengembangkan Thariqat Tijaniyah sampai akhir hayatnya. Ia dipanggil menghadap Allah Swt., pada tahun 1999 M., diantara muqaddam yang diangkat KH. Umar Baidhawi, antara lain : Syekh Abdul Ghafur, Ma’sum Bodowoso Jawa Timur; Hajjah Hanna, Kuningan Jawa Barat; Syekh Mahfudz, Kuningan Jawa Barat; Syekh Nawawi Ustman, Bodowoso Jawa Timur; Syekh Ridhwan Abd. Rahman, Pulung Sari Blitar Jawa Timur; Hajjah Ruqoyyah Khozin, Bladuwetan, Probolinggo Jawa Timur; Syekh Abu Yazid bin Khozin, Bladu Wetan Banyuanyar Probolinggo; Ust. Abd Aziz al-Hamdani, MA., Condet Jakarta Timur dan al-Habib Ja’far Ali Baharun, Brani Maron Probolinggo.
Sebelum ia wafat amanat pembinaan Thariqat Tijaniyah diserahkan kepada putranya; KH. Ibrahim Basyaiban, dibantu adiknya; Ustadz Anshori. Dalam melaksanakan amanatnya, ia melanjutkan program pendahulunya seperti “Pengajian Selasa akhir” yang dilakukan secara safari antar kota di Jawa Timur.
Perkembangan thariqat tijaniyah di probolinggo, pada masa KH. Umar Baidhawi, didukung dengan tampilnya dua muqaddam yang cukup enerjik yakni KH. Badri Masduqi dan KH. Habib Ja’far Ali Baharun.
KH. Badri Masduqi —Pimpinan Pondok Pesantren Badriduja Kraksaan Probolinggo— ia diangkat muqaddam oleh KH. Muhammad bin Yusuf pada tahun 1981 M. Ia adalah pigur ulama yang mumpuni, ia juga terkenal keberaniannya dalam mensosialisasikan ajaran Thariqat Tijaniyah. Kehadiran KH. Badri Masduqi dalam pengembangan thariqat tijaniyah, mendukung ketegaran dakwah thariqat tijaniyah yang dilakukan para muqaddam terutama dikaitkan dengan sikap para penentang. Ia melakukan perlawanan terhadap para penentang secara tegas. Kiyai Sukron Ma’mun —Mubaligh Kondang Jakarta— dan Kiyai Anas Thahir —senior PWNU Jawa Timur—; dua tokoh ini adalah penentang Thariqat Tijaniyah; keberanian KH. Badri Masduqi memungkinkan untuk melakukan perlawanan melalui “kaset-kaset” seacara terang-terangan kepada dua tokoh ini. Pada tahun 1987 Idul Khotmi dilaksanakandi Pondok Pesantren Buntet Cirebon dan salah satu agendanya adalah membahas kemuktabaran Thariqat Tijaniyah, ketika itu ditampilkan tiga makalah : dari kelompok penetang diwakili oleh KH. Husein Muhammad, dari kelompok peneliti diwakili oleh Martin van Bruinessen dan KH. Badri tampil mewakili intern Thariqat Tijaniyah. Semangat juang dan kegigihan KH. Badri Masduqi dalam mengembangkan dan membela ajaran Thariqat Tijaniyah tetap bergelora sampai wafatnya pada hari ahad tanggal 20 Sya’ban 1423 H., bertepatan dengan 21 Nopember 2002 M. Sedangkan kehadiran Habib Ja’far Ali baharun, —ia diangkat muqaddam oleh Syekh Muhammad al-Thayyib dan dikukuhkan oleh KH. Umar Baidhowi— dalam peta pengembangan dakwah thariqat tijaniyah berbeda dengan KH. Badri Masduqi, tampilannya lebih tampak sebagai “Bapak”. Dalam mewujudkan tanggung jawabnya dalam hal kejamaahan, ia megupayakan hal-hal sebagai berikut : Ia berusaha mempersatukan jama’ah thariqat tijaniyah yang ada di Indonesia; mempertemukan gagasan-gagasan muqadda; berusaha mengembangkan tradisi Idul Khotmi menembus kota-kota di Jawa Timur yang minoritas Tijani; melakukan hailallah keliling dari satu tempat ketempat lain; menjadikan wirid ikhtiyariyah Thariqat Tijaniyah yang di tertibkan dalam “al-Hishn al-Hashin” karya KH. Umar Baidhowi menjadi “kurikulum” resmi pada setiap peringatan Idul Khotmi; wirid dalam buku ini dijadikan bacaan wirid ikhtiyariyyah dalam tradisi khalwat al-Tijaniyah yang dikembangkannya. Selain hal yang telah disebutkan, ia mengidentifikasikan nama pesantren yang didirikannya dengan Thariqat Tijaniyah. Nama pesantren dimaksud “al-Tarbiyat al-Tijaniyah”. Dan di pesantren ini setiap tahun diadakan haul akbar Syekh Ahmad al-Tijani yang digabungkan dengan peringatan maulid nabi saw., setiap bulan Rabi’ul awal.
Selain dua tokoh yang telah disebutkan, perkembangan Thariqat Tijaniyah di Probolinggo Pada khususnya dan Jawa Timur pada umumnya, tokoh KH. Fauzan Adhiman Fathullah —ia diangkat muqaddam oleh Syekh Muhammad bin Yusuf dan Habib Muhammad al-Thayyib— punya andil besar dalam menjelaskam ajaran thariqat tijaniyah melalui karya tulisnya, antara lain (1) Sayyid al-Awliya (2) terjemah wahaya (wasiat-wasiat Syekh Ahmad al-Tijani) dan masyrab al-Tijani. Melalui karya tulisnya, jamaah Thariqat Tijaniyah memperoleh informasi yang mendalam tentang Syekh Ahmad al-Tijani dan thariqatnya. Martin Van Bruinessen menyebutnya sebagai “Intelektual Thariqat Tijaniyah”.
Melalui peran-peran muqaddam Thariqat Tijaniyah sebagaimana telah disebutkan, secara umum membangun kegairahan berthariqat yang berimplikasi pada perkembangan jamaah Thariqat Tijaniyah di Jawa Timur.
Dalam pengembangan thariqat tijaniyah di Jawa Timur, selain peran-peran muqaddam yang telah disebutkan, masih banyak muqaddam yang mempunyai andil dalam pengembangan thariqat ini antar lain : KH. Ali tamam, Surabaya, sedangkan di Probolinggo adalah KH. Mas Mi’ad Imadudin, Probolinggo, KH. Abdul Wahid, KH. Musthafa, Habib Muhammad bin Ahmad, KH. Dhafirudin dan KH. Bahar Syamsudin; di bondowoso :KH. Abdul Ghafur maksum, KH. Nawawi Usman, KH. Basyuri dan KH. Ahmad Jamaludin; Sidoarjo : dikembangkan oleh KH. Musthafa; Blitar :KH. Hadin Muhtadim KH. Ridwan Abd Rohman dan KH. Mujab bin Hadin Mu’tad; Malang KH. Ahmad Dimyati dan KH. Maftuh; lumajang, Habib Idrus bin Ali Baharun; Pasuruan, KH. Hasyim abd Ghafur; Jember, KH. Mansur Soleh dan KH. Musthafa dan di Gresik dikembangkan oleh KH. Mas’an Ansor.
Label: Tijaniyah Jawa Timur

BIOGRAFI KH.KHOZIN SYAMSUL MU’IN

BIOGRAFI K.H. KHOZIN SYAMSUL MU‟IN
SEBAGAI PERINTIS TAREKAT TIJANIYAH.
A. Genealogi
Telah dijelaskan pada bab II, bahwa perkembangan Tarekat Tijaniyah di Probolinggo, tidak lepas dari peran seorang ulama‟ yaitu yang bernama Kiai Khozin bin Syamsul Muin. Beliau putra dari Kiai Syamsul Muin dan Ibu. Kiai Khozin bin Syamsul Muin merupakan ulama‟ kelahiran Probolinggo tepatnya di desa Kebon Sari, Probolinggo.
Kiai Khozin Syamsul Muin lahir di desa Kebonsari, Probolinggo pada tahun 1888 M, tempat kediaman orang tua beliau kiai Syamsul Muin50 Keluarga beliau merupakan keluarga yang disegani di desa Sebaung, Probolinggo. Kakek dan ayah beliau merupakan dua orang ulama‟ yang memiliki kharismatik serta
berpengaruh pada masyarakat sekitar. Ayah beliau, Syamsul Muin merupakan sosok ulama‟ yang memiliki pengetahuan agama yang cukup dalam, sehingga dalam menjalankan dakwahnya beliau tidak begitu sulit *51.
Menurut riwayat beliau juga masih mempunyai garis nasab dengan
Sunan Giri yang terkenal dengan sebutan Raden Paku atau AinulYaqin dalaurutannya yang ke-5, melalui jalur ayah.
Berikut susunan silsilah dari Kiai Khozin bin Syamsul Muin;

RASULULLAH MUHAMMAD S.A.W
1. Fatimah az-Zahra + Ali bin Abi ThalibMadinah 
2. al-HusainKarbala-Iraq 
3. Ali Zainal AbidinMadinah 
4. Muhammad al-BaqirMadinah 
5. Ja’far ShadiqMadinah 
6. Ali al-UraidhiUraidh-Madinah 
7. Muhammad an-NaqibBashrah-Iraq 
8. Isa an-NaqibBashrah-Iraq 
9. Ahmad al-MuhajirHadramaut-Yaman 
10. Abdullah / UbaidillahHadramaut-Yaman 
11. Alawy al-MubtakirSahal-Yaman 
12. MuhammadHadramaut-Yaman 
13. Alawy Shohibu Bait JabirHadramaut-Yaman
14. Ali Khali’ QosamHadramaut-Yaman 
15. Muhammad Shohib MirbathHadramaut-Yaman 
16. Alawy ‘Ammil FaqihHadramaut-Yaman 
17. Abdul Malik AdzmatkhanNaserabad-India 
18. AbdullahNaserabad-India 
19. Ahmad Syah JalaluddinNaserabad-India 
20. Husain JamaluddinBugis/Wajo-Sulawesi 
21. Ibrahim Zainul Akbar (Asmoroqondiy)Tuban 
22. Maulana IshaqPasai 
23. Maulana Ainul Yaqin (sunan Giri)Gresik 
24. Abdurrahman (Pangeran Kulon)Gresik 
25. Nyai Gede KedatonGresik  

Nyai Gede Kedaton ini menikah dengan Muhammad Khatib (raden Bandardayo) bin Musa (sunan Pakuan) bin Qasim (sunan Drajad) bin raden Ahmad Rahmatullah (sunan Ampel).

26. Kyai Zainal Abidin (sunan Cendana)Kuanyar-Bangkalan 
27. Abdullah (bujuk Jembul/Majungan)Pamekasan 
28. Sulaiman (bujuk Liman/Panglima)Kedungmiri-Probolinggo 
29. Nyai Bahar (istri Kyai Bahar)Kebonsari wetan-Probolinggo
30. KH.Umar, Mekkah
31. Kiai Syamsul Mu’in ,Kebonsari wetan-Probolinggo

32. KH.Khozin, Blado Wetan Banyuanyar Probolinggo

B. Latar belakang pendidikan
Masa pendidikan Kiai Khozin dari kecil hingga besar banyak dihabiskan di pondok pesantren. Selama kurang lebih 20 tahun, ia secara intensif menggali pengetahuan keagamaan dari beberapa pesantren.Karena tumbuh dilingkungan pondok pesantren, mulai sejak dini ia diajarkan ilmu agama dan moral pada tingkat dasar.
Termasuk dalam hal ini tentu diajarkan seni Islam seperti kaligrafi*53, hadrah, barjanji, diba‟, dan sholawat. Kemudian tak lupa diajarkan tradisi yang menghormati leluhur dan keilmuan para leluhur,yaitu dengan berziarah ke makam-makam leluhur
dan melakukan tawasul. Beliau dididik ayahnya sendiri cara hidup seorang santri.
Diajaknya shalat berjamaah, dan sesekali dibangunkan malam hari untuk shalat tahajjud. Kemudian Kiai Syamsul Muin membimbingnya untuk menghafalkan Juz Amma dan membaca Al-Quran dengan tartil dan fasih.
Selain itu beliau juga dididik mengenal kitab-kitab kuning, dari kitab yang paling kecil dan isinya diperlukan untuk amaliyah sehari-hari. Misalnya: Kitab Safinatunnaja, Fathul Qorib, Fathul Mu‟in, Fathul Wahab, Muhadzdzab dan Al-Majmu‟. Kiai Khozin juga belajar Ilmu Tauhid, Tafsir, Ulumul Quran, Hadits, dan Ulumul Hadits. Kemauan yang keras untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya
tampak semenjak masa kecilnya yang tekun dan cerdas memahami berbagai ilmu yang dipelajarinya*54
Dalam melihat kehidupan Kiai Khozin, penulis membagi ke dalam empat fase:
1. Fase menuntut Ilmu-ilmu syari‟at mulai usia 7 tahun sampai 20 tahun.
2. Fase menuntut Teori-teori ilmu Tasawuf mulai 21 sampai 31 tahun.
3. Fase Pengidentifilasian diri mulai usia 31 tahun sampai 46 tahun.
4. Keempat : Fase pengembangan dakwah.
a. Fase menuntut Ilmu Syari‟at
Sejak umur tujuh tahun Kiai Khozin memulai belajar agama pada Kiai Fathullah yang merupakan ayah dari Kiai fauzan. Beranjak pada umur tiga belas tahun, beliau merantau untuk menuntut ilmu. Maka beliau pergi ke satu pesantren ke pesantren lainnya.
Diantara pesantren yang pernah disinggahi Kiai Khozin Syamsul Muin adalah sebagai berikut:
1) Pesantren yang berada di desa Canga‟an kota Bangil di bawah asuhan Kiai Asyekh.
2) Pesantren Panji Sidoarjo yang di asuh oleh Kiai Hasyim dan Kiai Khozin.
3) Pesantren Sidogiri Pasuruan bersama dengan Kiai Nawawi. Selain itu beliau juga berguru pada;
4) Kiai Ma‟sum Kemaron.
5) Kiai Muhaimin.
Tujuan Kiai Khozin berpindah dari satu pesantren ke pesantren lain guna untuk memperdalam ilmu syariatnya dari beberapa guru yang telah disebutkan diatas, sehingga ilmu syariat yang beliau dapat, akan menjadi suatu hal yang dapat menguatkan beliau dalam hal bertasawuf pada kehidupannya*55.
Dalam hal ini, Kiai Khozin memperdalam ilmunya sesuai dengan hadits:
“Barangsiapa yang keluar untuk menuntut ilmu, ia termasuk orang yang berjuang di jalan Allah hingga ia kembali”. (HR. At-Tirmidzi)
Selain itu Kiai Khozin berpindah-pindah tempat dalam hal memperdalam ilmunya juga sesuai pada penjelasan kitab akhlak, seperti di bawah ini;
“Pergilah dari rumahmu untuk mencari keutamaan, dalam kepergianmu ada 5

[lima]

faedah,yaitu menghilangkan kesusahan,mencari bekal hidup,ilmu, tatakrama dan teman sejati, meskipun dalam bepergianpun terdapat hina dan terluntalunta,menembus belantara dan menerjang kepayahan-kepayahan.” *56
b. Fase menuntut ilmu tasawuf
Pada usia 20 tahun, tepatnya 1928 Kiai Khozin berangkat ke Makkah untuk memperdalam ilmu tasawuf. Kurang lebih selama 10 tahun Kiai Khozin memperdalam ilmunya di Makkah. Kiai Khozin menghabiskan waktunya hanya untuk mendalami kitab-kitab fiqh, hadits, serta yang paling utama dalam hal tasawuf.
Menurut Kiai Fauzan, pada saat di Makkah Kiai Khozin dikenal sebagai kiai yang “doyan sholat *57 ” dan sangat menggeluti kitabnya sampai pada akhirnya beliau mendapat undangan oleh salah satu ulama dari mesir untuk menyelesaikan suatu
masalah mengenai tasawuf yang saat itu tidak ada ulama yang dapat menyelesaikannya hingga pada akhirnya permasalahan tersebut terselesaikan. Selama menempuh pendidikan di Makkah Kiai Khozin mempunyai beberapa guru, diantaranya;
a) Syaikh Umar al-Faruqi al-Maghrobi
b) Syaikh Umar ba Junaidi al-Syafi‟i
c) Syaikh Ahmad Badawi
d) Syaikh Sayyid Amin al-Qutbi al-Hanafi
e) Syaikh Hasan al-Massad
f) Syaikh Sayyid Ahmad al-Jamali
g) Syaikh Sayyid Ali al-Maliki
h) Syaikh Sayyid Syarifulan (Syarif al-Syinqiti)
i) Syaikh Sayyid Alawi al-Maliki (ayah syaikh Maliki)
j) Syaikh Said al-Yamani
k) Syaikh Umar Hamdan
c. Fase Pengidentifikasian Diri
Ketika Kiai Khozin berumur 30 tahun, beliau mulai mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT. Beliau memulai taqarrubnya dengan mengamalkan beberapa amalan wirid yang beliau punya. Kemudian ketika di Makkah beliau bertemu dengan Syaikh Umar al-Faruq yang merupakan guru dari Syaikh Muhammad bin Abd Hamid al-Futi mengajak Kiai Khozin untuk berbaiat pada Tarekat Tijani.
Setelah beberapa bulan beliau mengamalkan ajaran Tarekat Tijani, Kiai Khozin di jemput oleh utusan dari Kiai Fathullah untuk kembali ke Indonesia akan tetapi beliau tidak mau pulang dengan alasan beliau belum mempunyai kitab yang cukup untuk dibawa pulang. Setelah dua kali Kiai Khozin di jemput oleh utusannya, akhirnya Kiai Fathullah sendiri yang menjemput beliau ke Makkah. Kiai Fathullah menjemput Kiai Khozin dengan alasan Kiai Fathullah mendengar kabar dari temannya dari Makkah bahwa Kiai Khozin akan di boyong ke Mesir untuk tinggal disana. Maka dari itu beliau di jemput pulang ke Indonesia*58
d. Fase Pengembangan Dakwah
Pada tahun 1930an beliau pulang dari Makkah kembali ke Indonesia, lebih tepatnya di desa Sebaung Probolinggo yang merupakan tempat awal melaksanakan dakwahnya. Berawal dari Kiai Khozin membaca amalan Tarekat Tijaniyah pada waktu sore di kediamannya, ketika itu ada salah satu masyarakat yang penasaran dengan bacaan yang beliau ucapkan. Tidak lama kemudian akhirnya warga tersebut bai‟at. Sekitar tahun 1947 Kiai Khozin hijrah ke desa Blado Wetan berdasarkan arahan Kiai Fathullah untuk mengajarkan Islam pada masyarakat sekitar. Di desa Blado Wetan inilah Kiai Khozin memulai perjuangan dakwahnya sampai pada akhirnya mengembangkan ajaran Tarekat Tijaniyah hingga mempunyai pengikut yang mayoritas.

C. Peranan KH. Khozin Bagi Pengembangan Tarekat Tijaniyah
Dalam hal ini KH. Khozin merupakan perintis awal pada penyebaran Tarekat Tijani di desa Blado Wetan BanyuAnyar Probolinggo. Sebelum kedatangan Kiai Khozin di desa Blado Wetan ini sudah ada seorang ulama‟ yang tinggal disana untuk
mensyiarkan dakwahnya bagi masyarakat pribumi dengan berbagai pendekatan dan keahlian yang dimiliki oleh ulama‟ tersebut. Akan tetapi, kondisi masyarakat Blado Wetan saat itu sangatlah awam atau bisa dikatakan masih minim akan ilmu agama.*59 Sehingga pada akhirnya ulama‟ tersebut merasa keberatan dan menyerah dalam menghadapi masyarakat yang minim ilmu agama. Ulama‟ tersebut bernama Kiai Ilyas yang atas permintaan dari bapak H. Bustami *60 untuk memberikan pengetahuan ilmu keagamaan pada masyarakat luas. Sekitar kurang lebih 1 tahun Kiai Ilyas meninggalkan desa ini dalam hal mensyiarkan dakwahnya. Selain merasa tidak sanggup, cara penyampaiannya dakwah dari Kiai Ilyas tersebut kurang diterima
baik oleh masyarakat pribumi desa Blado Wetan. Setelah Kiai Ilyas pergi dari desa Blado Wetan, kemudian atas permintaan dari H. Bustami meminta untuk kiai Khozin berdakwah di desa Blado Wetan ini.
Pada tahun 1952 Kiai Khozin memulai dakwahnya dengan mendatangi masyarakat yang saat itu sedang berjudi, akan tetapi ketika itu juga masyarakat langsung menghentikan permainan judi tersebut. Setelah beberapa waktu kemudian Kiai Khozin mendirikan sebuah masjid yang diberi nama Nahdatut Thalibin. Dari sinilah kiprah Kiai Khozin mulai menyebar dengan memberikan pengajian-pengajian mengenai moral untuk merubah kondisi masyarakat yang awalnya awam menjadi berpengetahuan akan ilmu agama. Kiai Khozin tidak langsung mengajak masyarakat untuk mengikuti Tarekat Tijaniyah, sebab menurut beliau ketika seseorang masuk dalam suatu tarekat maka harus terlebih dahulu mengerti akan syariat atau ilmu agama yang mendasar dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu syariat disini berperan penting pada diri manusia karena ibarat pondasi dalam sebuah bangunan. Ketika pondasi tersebut lemah maka bangunan itu akan mudah roboh, sama halnya dengan manusia pada saat ilmu syariatnya lemah bisa jadi akan mudah terganggu jiwa manusia tersebut.Setelah berjalan beberapa waktu dengan pemberian pengajianpengajian moral tersebut, akhirnya sedikit demi sedikit masyarakat berubah dan berbondong-bondong untuk mendalami ilmu syariat agar menjadi hidup lebih baik.
Akan tetapi Kiai Khozin tidak pernah memaksa masyarakat harus ikut tarekat akan tetapi beliau menerangkannya secara global tentang Tarekat Tijaniyah*61.
Hasil usaha dari kegigihan kiai Khozin yang telah berhasil merubah masyarakat berakhlak, pada akhirnya beliau mempunyai inisiatif untuk membangun pondok pesantren yang bertempat disamping masjid Nahdatut Thalibin tersebut, hingga pada akhirnya pesantren itu juga diberi nama Nahdatut Thalibin. Santri yang menimba ilmu disana tidak lain berawal dari anak dari masyarakat sekitar yang kemudian berdatangan santri dari luar desa Blado Wetan.
Telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa Kiai Khozin sangat ketat dalam arti untuk masuk pada tarekat Tijani ini.Beliau sangat berhati-hati dalam mengajarkan serta menyebarkan tarekat Tijani agar tidak mengakibatkan konflik yang berarti seperti pernah terjadi di Cirebon. Penyebaran tarekat berjalan lancar tanpa ada
pertentangan yang menyolok dari beberapa kalangan tertentu yang bisa jadi tidak setuju akan ajaran Tijani. Seiring berjalannya waktu Kyai Khozin yang telah memiliki jumlah pengikut yang besar di daerah Probolinggo hingga pada akhirnya mengangkat dua muqaddam yakni Kyai Ahmad Taufik Hidayatullah dan Kyai
Mukhlas.*62
Keterangan:
*50. Kiai Fauzan dengan Kiai Thaha Khozin, Wawancara, Probolinggo, 29-11-2013
*51. Abd Bahri, Wawancara, Probolinggo, 07-12 2013
*52.Abd Bahri, Wawancara, Probolinggo, 07-12 2013
*53. Seni tulisan Arab, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 22
*54. Kiai Thaha Khozin, Wawancara, Probolinggo, 29-11-2013
*55. Kiai Fauzan dengan Kiai Thaha Khozin, Wawancara, Probolinggo, 29-11-2013
*56. terjemah-kitab-alala/, (11 oktober 2014)
*57. Sering melakukan ibadah shalat
*58. Kiai Fauzan, wawancara, 29-11-2013
*59. Bpk. Zaenullah, Wawancara, 11 April 2014
*60. H. Bustami merupakan salah seorang mertua dari Kiai Mukhlas adik ipar Kiai Khozin.
*61. Bpk. Zaenullah, Wawancara, 11 April 2014
*62.Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren dan tarekat, Tradisi-tradisi Islam di Indonesia, Bandung, Mizan, 1995. 321-322

GURU KH.KHOZIN DI INDONESIA DAN DI MEKKAH

A.GURU KH.KHOZIN WAKTU DI INDONESIA


1.Kiai ASYYEH Canga’an Bangil
2.Kiai KHOZIN Panji Sidoarjo
3.Kiai HASYIM Panji Sidoarjo
4.Kiai NAWAWI Sidogiri
5.Kiai MA’SUM Kemaron
6.Kiai MUHAIMIN

B.GURU KH.KHOZIN WAKTU DI MEKKAH


1.Syaikh UMAR AL- FARUQI AL-MAGHROBI
2.Syaikh UMAR ba JUNAIDI AL-SYAFI’I
3.Syaikh AHMAD BADAWI
4.Syaikh Sayyid AMIN AL-QUTBI AL-HANAFI
5.Syaikh HASAN AL-MASSAD
7.Syaikh Sayyid AHMAD AL-JAMALI
8.Syaikh Sayyid ALI AL-MALIKI
9.Syaikh Sayyid SYARIFULAN (Syarif AL-SYINQITI)
10.Syaikh Sayyid ALAWI AL-MALIKI (ayah syaikh MUHAMMAD AL-MALIKI)
11.Syaikh SAID AL-YAMANI
12.Syaikh UMAR HAMDAN

SILSILAH KH.KHOZIN SYAMSUL MU’IN

RASULULLAH MUHAMMAD S.A.W
1. Fatimah az-Zahra + Ali bin Abi ThalibMadinah 
2. al-HusainKarbala-Iraq 
3. Ali Zainal AbidinMadinah 
4. Muhammad al-BaqirMadinah 
5. Ja’far ShadiqMadinah 
6. Ali al-UraidhiUraidh-Madinah 
7. Muhammad an-NaqibBashrah-Iraq 
8. Isa an-NaqibBashrah-Iraq 
9. Ahmad al-MuhajirHadramaut-Yaman 
10. Abdullah / UbaidillahHadramaut-Yaman 
11. Alawy al-MubtakirSahal-Yaman 
12. MuhammadHadramaut-Yaman 
13. Alawy Shohibu Bait JabirHadramaut-Yaman
14. Ali Khali’ QosamHadramaut-Yaman 
15. Muhammad Shohib MirbathHadramaut-Yaman 
16. Alawy ‘Ammil FaqihHadramaut-Yaman 
17. Abdul Malik AdzmatkhanNaserabad-India 
18. AbdullahNaserabad-India 
19. Ahmad Syah JalaluddinNaserabad-India 
20. Husain JamaluddinBugis/Wajo-Sulawesi 
21. Ibrahim Zainul Akbar (Asmoroqondiy)Tuban 
22. Maulana IshaqPasai 
23. Maulana Ainul Yaqin (sunan Giri)Gresik 
24. Abdurrahman (Pangeran Kulon)Gresik 
25. Nyai Gede KedatonGresik  

Nyai Gede Kedaton ini menikah dengan Muhammad Khatib (raden Bandardayo) bin Musa (sunan Pakuan) bin Qasim (sunan Drajad) bin raden Ahmad Rahmatullah (sunan Ampel).

26. Kyai Zainal Abidin (sunan Cendana)Kuanyar-Bangkalan 
27. Abdullah (bujuk Jembul/Majungan)Pamekasan 
28. Sulaiman (bujuk Liman/Panglima)Kedungmiri-Probolinggo 
29. Nyai Bahar (istri Kyai Bahar)Kebonsari wetan-Probolinggo 
30. KH.Umar, Mekkah
31. Kiai Syamsul Mu’in ,Kebonsari wetan-Probolinggo

32. KH.Khozin, Blado Wetan Banyuanyar Probolinggo

Wafat pada hari RABU

Tanggal 1 Jumadil Akhir 1400 H, 16 April 1980 M

SALAH SATU BUKTI KEMANDIRIAN PON PES NAHDLATUT THALIBIN

Meneruskan Tradisi Mandiri Energi

Kantor Pondok Pesantren Putra

Pondok Pesantren Nahdlatut Tholibin adalah satu dari puluhan pondok salaf di Kabupaten Probolinggo. Pada 2008 ini, umurnya genap 66 tahun. Pondok ini terletak di Desa Blado Wetan, Kecamatan Banyuanyar. Dari Kota Probolinggo jaraknya sekitar 15 kilometer ke arah timur.

Bagi penduduk sekitar, kawah candradimuka para santri ini lebih dikenal dengan sebutan Pondok Pesantren Blado. Ini karena letaknya di Desa Blado Wetan. Ponpes ini didirikan KH Khozin Syamsul Mu’in. Konon saat awal berdirinya hanya ada empat santri. Pada era 1980-an hingga 1990-an, santrinya berkembang mencapai ribuan. Kini santrinya agak menurun menjadi sekitar 800 orang.

Berdiri di atas lahan sekitar dua hektar, pondok ini dibagi menjadi tiga bagian. Setiap bagian yang dipisahkan tembok itu meliputi kompleks asrama santri putra, kompleks asrama santri putri, dan rumah pimpinan KH Thoha Khozin (65) yang merupakan putra pendiri pondok.

Di kompleks asrama putra, bangunan utama adalah masjid yang arsitekturnya masih kuno. Masjid ini berdiri di tengah kompleks yang dikepung deretan kamar santri, ruang kelas, dan kamar guru.

Dua pohon besar berdiri kokoh di samping masjid menghadirkan sedikit kesejukan di tengah udara panas Kabupaten Probolinggo. Sebuah kolam kecil tanpa ikan memberi aksen meski tidak terlalu menonjol.

Salah satu keunikan pondok ini adalah kemandiriannya dalam pengadaan energi listrik. Hal itu sudah dilakukan sejak periode awal berdirinya pondok. Meski jaringan listrik PLN sudah masuk ke wilayah Kecamatan Banyuanyar bertahun-tahun lalu, tradisi kemandirian energi itu tetap dipertahankan.

“Ini untuk melestarikan peninggalan pendahulu selain dari segi ekonomi lebih hemat,” kata Wakil Kepala Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Nahdlatut Tholibin Ahmad Tijani.

PLTA

Pengadaan listrik mandiri pondok dipasok dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) skala kecil. Kebetulan antara pondok dan sungai hanya dipisahkan jalan aspal desa selebar 3 meter. Sungai itu lebarnya hanya sekitar dua meter. Meski tergolong kecil, arusnya cukup untuk menggerakkan turbin.

Kini pondok memiliki empat turbin besi, tetapi satu di antaranya rusak sehingga hanya tiga yang berfungsi 24 jam. Masing-masing turbin memiliki gardu generatornya masing-masing.

Di dalam gardu generator, terdapat roda-roda yang meneruskan putaran turbin. Energi putaran roda itulah yang disalurkan ke generator untuk diubah menjadi daya listrik.

Energi listrik kemudian dimasukkan ke dalam sekring yang juga masih di dalam gardu generator. Selanjutnya dari sekring pertama itu listrik disalurkan ke sekring kedua yang terpasang di kompleks pondok sebelum disebar ke titik-titik penggunaan.

Menurut Kepala Petugas Perbaikan dan Pengoperasian Listrik (P3L) Abdul Wahid (28) yang juga guru pondok, masing-masing generator mampu menghasilkan listrik sekitar 3.000 watt. Dengan demikian, dari tiga generator yang berfungsi, listrik yang dipasok sebesar 9.000 watt.

Daya tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan. Misalnya untuk penerangan lampu di setiap kamar santri, ruang kelas, kamar dan ruang guru, serta perpustakaan. Listrik juga digunakan untuk lampu dan pengeras suara di masjid serta komputer di ruang pengurus pondok.

Perawatan rutinnya pun tergolong mudah. P3L hanya perlu memberikan pelumas pada turbin per bulan. Sementara tiap tahun, karet roda harus diganti karena biasanya telah kendur. Adapun turbinnya relatif tahan lama karena terbuat dari besi.”Kalau arus air sedang kecil, kami mempunyai diesel sebagai cadangan,” imbuh Wahid.

Saat malam memberikan kegelapan, turbin-turbin besi pondok tak henti berputar. Dari kesetiaan berputar itu, turbin setia menghadirkan terang bagi para santri.

Oleh: Laksana A Saputra

PEMBANGUNAN PONDOK PESANTREN PUTRI

PONDOK PESANTREN NAHDLATUT THALIBIN adalah pesantren salaf yg masih mandiri tanpa tersentuh oleh pemerintah, dan memang tidak ingin di sumbang oleh pemerintah

Saat ini Pesantren Putri sedang meneruskan keramik yg semula di anggarkan lebar dalam ruangan adalah 583 meter sementara yg sudah di kerjakan adalah 126 meter

dan sumbangan dari Alumni yg tergabung di HIMANT

baik di Grup WA HIMANT atau di Grup FB HIMANT sebesar Rp.9.000.000 atau 180 meter berarti masih banyak kekurangan yg harus di tanggung oleh alumni maka dari itu kami masih berharap sumbangan dari segenap Alumni

sementara rincian uang yang masuk adalah sebagai berikut

MUZAKKIYAH Kalimantan 60 meter Rp.3.000.000

HUZAIMAH/MANSUR Besuki 10 meter Rp.850.000

IKROMAH Paiton 1 meter Rp.50.000

HASAN Pakuniran 6 meter Rp.300.000

HUDORI Cirebon 20 meter Rp.1.000.000

MAKSUM Besuki 2 Meter Rp.100.000

SUMARLI Besuki 1 meter Rp.50.000

QUMIL LAILAH Leces 6 Meter Rp.300.000

ROBIATUL ADAWIYAH Patokan 4 Meter Rp.200.000

ABD.ROHIM C Patokan 10 Meter Rp.500.00

ALI RIZAL Malang 6 Meter Rp.300.000

SYAMSUL ARIFIN Pandanarum 2 Meter Rp.100.000

MOHAMMAD HAFIDZ  Tegalsiwalan 2 Meter Rp.100.000

ZAINUDDIN Lombok Barat 10 Meter Rp.500.000

RIFA’I Besuki 3 Meter Rp.150.000

SHOLEH Denpasar Bali 10 Meter Rp.500.000

YENNI Wonorejo Lumajang 20 Meter Rp.1.000.000

bagi yang mau berdonasi silahkan transfer ke

BCA
7965046747
A/N
MANSUR

BNI
0714933129
A/N
MANSUR

Kami menunggu uluran tangan anda agar pembangunan Pon Pes NAHDLATUT THALIBIN Blado Wetan segera selesai

Untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi link di bawah ini:

http://bit.ly/2EPaeOb