BIOGRAFI K.H. KHOZIN SYAMSUL MU‟IN
SEBAGAI PERINTIS TAREKAT TIJANIYAH.
A. Genealogi
Telah dijelaskan pada bab II, bahwa perkembangan Tarekat Tijaniyah di Probolinggo, tidak lepas dari peran seorang ulama‟ yaitu yang bernama Kiai Khozin bin Syamsul Muin. Beliau putra dari Kiai Syamsul Muin dan Ibu. Kiai Khozin bin Syamsul Muin merupakan ulama‟ kelahiran Probolinggo tepatnya di desa Kebon Sari, Probolinggo.
Kiai Khozin Syamsul Muin lahir di desa Kebonsari, Probolinggo pada tahun 1888 M, tempat kediaman orang tua beliau kiai Syamsul Muin50 Keluarga beliau merupakan keluarga yang disegani di desa Sebaung, Probolinggo. Kakek dan ayah beliau merupakan dua orang ulama‟ yang memiliki kharismatik serta
berpengaruh pada masyarakat sekitar. Ayah beliau, Syamsul Muin merupakan sosok ulama‟ yang memiliki pengetahuan agama yang cukup dalam, sehingga dalam menjalankan dakwahnya beliau tidak begitu sulit *51.
Menurut riwayat beliau juga masih mempunyai garis nasab dengan
Sunan Giri yang terkenal dengan sebutan Raden Paku atau AinulYaqin dalaurutannya yang ke-5, melalui jalur ayah.
Berikut susunan silsilah dari Kiai Khozin bin Syamsul Muin;
RASULULLAH MUHAMMAD S.A.W
1. Fatimah az-Zahra + Ali bin Abi Thalib, Madinah
2. al-Husain, Karbala-Iraq
3. Ali Zainal Abidin, Madinah
4. Muhammad al-Baqir, Madinah
5. Ja’far Shadiq, Madinah
6. Ali al-Uraidhi, Uraidh-Madinah
7. Muhammad an-Naqib, Bashrah-Iraq
8. Isa an-Naqib, Bashrah-Iraq
9. Ahmad al-Muhajir, Hadramaut-Yaman
10. Abdullah / Ubaidillah, Hadramaut-Yaman
11. Alawy al-Mubtakir, Sahal-Yaman
12. Muhammad, Hadramaut-Yaman
13. Alawy Shohibu Bait Jabir, Hadramaut-Yaman
14. Ali Khali’ Qosam, Hadramaut-Yaman
15. Muhammad Shohib Mirbath, Hadramaut-Yaman
16. Alawy ‘Ammil Faqih, Hadramaut-Yaman
17. Abdul Malik Adzmatkhan, Naserabad-India
18. Abdullah, Naserabad-India
19. Ahmad Syah Jalaluddin, Naserabad-India
20. Husain Jamaluddin, Bugis/Wajo-Sulawesi
21. Ibrahim Zainul Akbar (Asmoroqondiy), Tuban
22. Maulana Ishaq, Pasai
23. Maulana Ainul Yaqin (sunan Giri), Gresik
24. Abdurrahman (Pangeran Kulon), Gresik
25. Nyai Gede Kedaton, Gresik
Nyai Gede Kedaton ini menikah dengan Muhammad Khatib (raden
Bandardayo) bin Musa (sunan Pakuan) bin Qasim (sunan Drajad) bin raden
Ahmad Rahmatullah (sunan Ampel).
26. Kyai Zainal Abidin (sunan Cendana), Kuanyar-Bangkalan
27. Abdullah (bujuk Jembul/Majungan), Pamekasan
28. Sulaiman (bujuk Liman/Panglima), Kedungmiri-Probolinggo
29. Nyai Bahar (istri Kyai Bahar), Kebonsari wetan-Probolinggo
30. KH.Umar, Mekkah
31. Kiai Syamsul Mu’in ,Kebonsari wetan-Probolinggo
32. KH.Khozin, Blado Wetan Banyuanyar Probolinggo
B. Latar belakang pendidikan
Masa pendidikan Kiai Khozin dari kecil hingga besar banyak dihabiskan di pondok pesantren. Selama kurang lebih 20 tahun, ia secara intensif menggali pengetahuan keagamaan dari beberapa pesantren.Karena tumbuh dilingkungan pondok pesantren, mulai sejak dini ia diajarkan ilmu agama dan moral pada tingkat dasar.
Termasuk dalam hal ini tentu diajarkan seni Islam seperti kaligrafi*53, hadrah, barjanji, diba‟, dan sholawat. Kemudian tak lupa diajarkan tradisi yang menghormati leluhur dan keilmuan para leluhur,yaitu dengan berziarah ke makam-makam leluhur
dan melakukan tawasul. Beliau dididik ayahnya sendiri cara hidup seorang santri.
Diajaknya shalat berjamaah, dan sesekali dibangunkan malam hari untuk shalat tahajjud. Kemudian Kiai Syamsul Muin membimbingnya untuk menghafalkan Juz Amma dan membaca Al-Quran dengan tartil dan fasih.
Selain itu beliau juga dididik mengenal kitab-kitab kuning, dari kitab yang paling kecil dan isinya diperlukan untuk amaliyah sehari-hari. Misalnya: Kitab Safinatunnaja, Fathul Qorib, Fathul Mu‟in, Fathul Wahab, Muhadzdzab dan Al-Majmu‟. Kiai Khozin juga belajar Ilmu Tauhid, Tafsir, Ulumul Quran, Hadits, dan Ulumul Hadits. Kemauan yang keras untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya
tampak semenjak masa kecilnya yang tekun dan cerdas memahami berbagai ilmu yang dipelajarinya*54
Dalam melihat kehidupan Kiai Khozin, penulis membagi ke dalam empat fase:
1. Fase menuntut Ilmu-ilmu syari‟at mulai usia 7 tahun sampai 20 tahun.
2. Fase menuntut Teori-teori ilmu Tasawuf mulai 21 sampai 31 tahun.
3. Fase Pengidentifilasian diri mulai usia 31 tahun sampai 46 tahun.
4. Keempat : Fase pengembangan dakwah.
a. Fase menuntut Ilmu Syari‟at
Sejak umur tujuh tahun Kiai Khozin memulai belajar agama pada Kiai Fathullah yang merupakan ayah dari Kiai fauzan. Beranjak pada umur tiga belas tahun, beliau merantau untuk menuntut ilmu. Maka beliau pergi ke satu pesantren ke pesantren lainnya.
Diantara pesantren yang pernah disinggahi Kiai Khozin Syamsul Muin adalah sebagai berikut:
1) Pesantren yang berada di desa Canga‟an kota Bangil di bawah asuhan Kiai Asyekh.
2) Pesantren Panji Sidoarjo yang di asuh oleh Kiai Hasyim dan Kiai Khozin.
3) Pesantren Sidogiri Pasuruan bersama dengan Kiai Nawawi. Selain itu beliau juga berguru pada;
4) Kiai Ma‟sum Kemaron.
5) Kiai Muhaimin.
Tujuan Kiai Khozin berpindah dari satu pesantren ke pesantren lain guna untuk memperdalam ilmu syariatnya dari beberapa guru yang telah disebutkan diatas, sehingga ilmu syariat yang beliau dapat, akan menjadi suatu hal yang dapat menguatkan beliau dalam hal bertasawuf pada kehidupannya*55.
Dalam hal ini, Kiai Khozin memperdalam ilmunya sesuai dengan hadits:
“Barangsiapa yang keluar untuk menuntut ilmu, ia termasuk orang yang berjuang di jalan Allah hingga ia kembali”. (HR. At-Tirmidzi)
Selain itu Kiai Khozin berpindah-pindah tempat dalam hal memperdalam ilmunya juga sesuai pada penjelasan kitab akhlak, seperti di bawah ini;
“Pergilah dari rumahmu untuk mencari keutamaan, dalam kepergianmu ada 5
[lima]
faedah,yaitu menghilangkan kesusahan,mencari bekal hidup,ilmu,
tatakrama dan teman sejati, meskipun dalam bepergianpun terdapat hina
dan terluntalunta,menembus belantara dan menerjang kepayahan-kepayahan.”
*56
b. Fase menuntut ilmu tasawuf
Pada usia 20 tahun, tepatnya
1928 Kiai Khozin berangkat ke Makkah untuk memperdalam ilmu tasawuf.
Kurang lebih selama 10 tahun Kiai Khozin memperdalam ilmunya di Makkah.
Kiai Khozin menghabiskan waktunya hanya untuk mendalami kitab-kitab
fiqh, hadits, serta yang paling utama dalam hal tasawuf.
Menurut
Kiai Fauzan, pada saat di Makkah Kiai Khozin dikenal sebagai kiai yang
“doyan sholat *57 ” dan sangat menggeluti kitabnya sampai pada akhirnya
beliau mendapat undangan oleh salah satu ulama dari mesir untuk
menyelesaikan suatu
masalah mengenai tasawuf yang saat itu tidak ada
ulama yang dapat menyelesaikannya hingga pada akhirnya permasalahan
tersebut terselesaikan. Selama menempuh pendidikan di Makkah Kiai Khozin
mempunyai beberapa guru, diantaranya;
a) Syaikh Umar al-Faruqi al-Maghrobi
b) Syaikh Umar ba Junaidi al-Syafi‟i
c) Syaikh Ahmad Badawi
d) Syaikh Sayyid Amin al-Qutbi al-Hanafi
e) Syaikh Hasan al-Massad
f) Syaikh Sayyid Ahmad al-Jamali
g) Syaikh Sayyid Ali al-Maliki
h) Syaikh Sayyid Syarifulan (Syarif al-Syinqiti)
i) Syaikh Sayyid Alawi al-Maliki (ayah syaikh Maliki)
j) Syaikh Said al-Yamani
k) Syaikh Umar Hamdan
c. Fase Pengidentifikasian Diri
Ketika Kiai Khozin berumur 30 tahun, beliau mulai mendekatkan diri
(taqarrub) kepada Allah SWT. Beliau memulai taqarrubnya dengan
mengamalkan beberapa amalan wirid yang beliau punya. Kemudian ketika di
Makkah beliau bertemu dengan Syaikh Umar al-Faruq yang merupakan guru
dari Syaikh Muhammad bin Abd Hamid al-Futi mengajak Kiai Khozin untuk
berbaiat pada Tarekat Tijani.
Setelah beberapa bulan beliau
mengamalkan ajaran Tarekat Tijani, Kiai Khozin di jemput oleh utusan
dari Kiai Fathullah untuk kembali ke Indonesia akan tetapi beliau tidak
mau pulang dengan alasan beliau belum mempunyai kitab yang cukup untuk
dibawa pulang. Setelah dua kali Kiai Khozin di jemput oleh utusannya,
akhirnya Kiai Fathullah sendiri yang menjemput beliau ke Makkah. Kiai
Fathullah menjemput Kiai Khozin dengan alasan Kiai Fathullah mendengar
kabar dari temannya dari Makkah bahwa Kiai Khozin akan di boyong ke
Mesir untuk tinggal disana. Maka dari itu beliau di jemput pulang ke
Indonesia*58
d. Fase Pengembangan Dakwah
Pada tahun 1930an
beliau pulang dari Makkah kembali ke Indonesia, lebih tepatnya di desa
Sebaung Probolinggo yang merupakan tempat awal melaksanakan dakwahnya.
Berawal dari Kiai Khozin membaca amalan Tarekat Tijaniyah pada waktu
sore di kediamannya, ketika itu ada salah satu masyarakat yang penasaran
dengan bacaan yang beliau ucapkan. Tidak lama kemudian akhirnya warga
tersebut bai‟at. Sekitar tahun 1947 Kiai Khozin hijrah ke desa Blado
Wetan berdasarkan arahan Kiai Fathullah untuk mengajarkan Islam pada
masyarakat sekitar. Di desa Blado Wetan inilah Kiai Khozin memulai
perjuangan dakwahnya sampai pada akhirnya mengembangkan ajaran Tarekat
Tijaniyah hingga mempunyai pengikut yang mayoritas.
C. Peranan KH. Khozin Bagi Pengembangan Tarekat Tijaniyah
Dalam hal ini KH. Khozin merupakan perintis awal pada penyebaran
Tarekat Tijani di desa Blado Wetan BanyuAnyar Probolinggo. Sebelum
kedatangan Kiai Khozin di desa Blado Wetan ini sudah ada seorang ulama‟
yang tinggal disana untuk
mensyiarkan dakwahnya bagi masyarakat
pribumi dengan berbagai pendekatan dan keahlian yang dimiliki oleh
ulama‟ tersebut. Akan tetapi, kondisi masyarakat Blado Wetan saat itu
sangatlah awam atau bisa dikatakan masih minim akan ilmu agama.*59
Sehingga pada akhirnya ulama‟ tersebut merasa keberatan dan menyerah
dalam menghadapi masyarakat yang minim ilmu agama. Ulama‟ tersebut
bernama Kiai Ilyas yang atas permintaan dari bapak H. Bustami *60 untuk
memberikan pengetahuan ilmu keagamaan pada masyarakat luas. Sekitar
kurang lebih 1 tahun Kiai Ilyas meninggalkan desa ini dalam hal
mensyiarkan dakwahnya. Selain merasa tidak sanggup, cara penyampaiannya
dakwah dari Kiai Ilyas tersebut kurang diterima
baik oleh masyarakat
pribumi desa Blado Wetan. Setelah Kiai Ilyas pergi dari desa Blado
Wetan, kemudian atas permintaan dari H. Bustami meminta untuk kiai
Khozin berdakwah di desa Blado Wetan ini.
Pada tahun 1952 Kiai
Khozin memulai dakwahnya dengan mendatangi masyarakat yang saat itu
sedang berjudi, akan tetapi ketika itu juga masyarakat langsung
menghentikan permainan judi tersebut. Setelah beberapa waktu kemudian
Kiai Khozin mendirikan sebuah masjid yang diberi nama Nahdatut Thalibin.
Dari sinilah kiprah Kiai Khozin mulai menyebar dengan memberikan
pengajian-pengajian mengenai moral untuk merubah kondisi masyarakat yang
awalnya awam menjadi berpengetahuan akan ilmu agama. Kiai Khozin tidak
langsung mengajak masyarakat untuk mengikuti Tarekat Tijaniyah, sebab
menurut beliau ketika seseorang masuk dalam suatu tarekat maka harus
terlebih dahulu mengerti akan syariat atau ilmu agama yang mendasar
dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu syariat disini berperan penting pada
diri manusia karena ibarat pondasi dalam sebuah bangunan. Ketika pondasi
tersebut lemah maka bangunan itu akan mudah roboh, sama halnya dengan
manusia pada saat ilmu syariatnya lemah bisa jadi akan mudah terganggu
jiwa manusia tersebut.Setelah berjalan beberapa waktu dengan pemberian
pengajianpengajian moral tersebut, akhirnya sedikit demi sedikit
masyarakat berubah dan berbondong-bondong untuk mendalami ilmu syariat
agar menjadi hidup lebih baik.
Akan tetapi Kiai Khozin tidak pernah
memaksa masyarakat harus ikut tarekat akan tetapi beliau menerangkannya
secara global tentang Tarekat Tijaniyah*61.
Hasil usaha dari
kegigihan kiai Khozin yang telah berhasil merubah masyarakat berakhlak,
pada akhirnya beliau mempunyai inisiatif untuk membangun pondok
pesantren yang bertempat disamping masjid Nahdatut Thalibin tersebut,
hingga pada akhirnya pesantren itu juga diberi nama Nahdatut Thalibin.
Santri yang menimba ilmu disana tidak lain berawal dari anak dari
masyarakat sekitar yang kemudian berdatangan santri dari luar desa Blado
Wetan.
Telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa Kiai Khozin
sangat ketat dalam arti untuk masuk pada tarekat Tijani ini.Beliau
sangat berhati-hati dalam mengajarkan serta menyebarkan tarekat Tijani
agar tidak mengakibatkan konflik yang berarti seperti pernah terjadi di
Cirebon. Penyebaran tarekat berjalan lancar tanpa ada
pertentangan
yang menyolok dari beberapa kalangan tertentu yang bisa jadi tidak
setuju akan ajaran Tijani. Seiring berjalannya waktu Kyai Khozin yang
telah memiliki jumlah pengikut yang besar di daerah Probolinggo hingga
pada akhirnya mengangkat dua muqaddam yakni Kyai Ahmad Taufik
Hidayatullah dan Kyai
Mukhlas.*62
Keterangan:
*50. Kiai Fauzan dengan Kiai Thaha Khozin, Wawancara, Probolinggo, 29-11-2013
*51. Abd Bahri, Wawancara, Probolinggo, 07-12 2013
*52.Abd Bahri, Wawancara, Probolinggo, 07-12 2013
*53. Seni tulisan Arab, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 22
*54. Kiai Thaha Khozin, Wawancara, Probolinggo, 29-11-2013
*55. Kiai Fauzan dengan Kiai Thaha Khozin, Wawancara, Probolinggo, 29-11-2013
*56. terjemah-kitab-alala/, (11 oktober 2014)
*57. Sering melakukan ibadah shalat
*58. Kiai Fauzan, wawancara, 29-11-2013
*59. Bpk. Zaenullah, Wawancara, 11 April 2014
*60. H. Bustami merupakan salah seorang mertua dari Kiai Mukhlas adik ipar Kiai Khozin.
*61. Bpk. Zaenullah, Wawancara, 11 April 2014
*62.Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren dan tarekat,
Tradisi-tradisi Islam di Indonesia, Bandung, Mizan, 1995. 321-322